Senin, 22 Mei 2017

Minum susu bikin asam lambung naik? Ini jawabannya

Minum susu bikin asam lambung naik? Ini jawabannya,- di dunia kesehatan, susu menjadi minuman yang sehat karena tingginya kandungan nutrisi dan mineral di dalamnya. Tak hanya untuk mendukung tumbuh kembang anak-anak, susu juga bermanfaat untuk menyehatkan tubuh orang dewasa hingga lansia.

Namun karena kebanyakan jenis susu yang beredar adalah susu sapi, maka ada beberapa efek negatif yang ditimbulkannya. Terutama bagi orang yang alergi dengan protein susu sapi. Salah satu dampak buruk yang banyak didengungkan selama ini adalah minum susu bisa menaikkan asam lambung.

Benarkah demikian?

Disebutkan bahwa minum susu memang bisa bikin asam lambung naik namun saat diminum ketika perutmu kosong. Sebab susu sendiri terlalu pekat dan lambung bereaksi dengannya lewat cara menaikkan asam. Dan bagi sebagian orang yang bisa menyebabkan kelemahan pada otot perut.

Asam lambung memang membahayakan. sehingga bagi kamu yang tidak bisa mencerna susu dengan baik, maka pilihlah susu yang proteinnya berasal dari protein nabati seperti kacang almond atau kacang kedelai.

Minggu, 07 Mei 2017

Stres karena Ekonomi, Cirinya Pegal dan Masalah Asam Lambung

Stres karena Ekonomi, Cirinya Pegal dan Masalah Asam Lambung,- Stres sering menyerang kehidupan sehari-hari. Tak jarang, penyakit psikis itu juga menyerang kesehatan jasmani.

Dengan mengambil sampel lebih dari 6.300 orang, penelitian di Universitas Carneige Mellon menyimpulkan tingkat stres pada masyarakat, khususnya di perkotaan, melonjak pada periode 1983 hingga 2009. Peningkatan itu disebabkan tumbuhnya populasi masyarakat.

Pengamat Ekonomi Imaduddin Abdullah mengatakan ekonomi merupakan salah satu faktor pemicu timbulnya stres di masyarakat. Pendapatan yang rendah dan sedikitnya lapangan pekerjaan menjadi fenomena umum di Ibukota.

"Dalam beberapa kasus, masalah ekonomi mendorong orang melakukan kriminalitas karena biaya hidup relatif tinggi," tuturnya.

Sementara itu, dari sisi psikis, psikolog Liza Marielly Djaprie menjelaskan stres muncul karena realita tidak sesuai dengan tuntutan atau harapan, misalnya dalam pekerjaan atau pun kehidupan sehari-hari.

"Ada hal-hal yang tidak bisa diubah, jadi sebaiknya menerima saja dan menyesuaikan diri. Kalau menyebabkan kondisi yang lebih buruk, seperti kesehatan menurun, sebaiknya dipikirkan kembali," katanya.

Adapun penyakit yang kerap menyambangi kaum perkotaan ialah pegal-pegal hingga asam lambung. Penyakit tersebut disebabkan kecemasan yang tinggi dan juga gaya hidup.

"Konsumsi makanan yang bergizi sangat penting bagi masyarakat perkotaan, begitu juga dengan olahraga. Tapi yang paling penting adalah tersenyum dan ingat bahwa kita masih bisa bernafas sehingga tidak perlu cemas," tutur Coporate Business Development Deputy Director & Head of Saka Inobation PT Kalbe Farma Tbk., Franciscus Xaverius widiyatmo.

Sabtu, 18 Februari 2017

Benarkah Pemberian Imunisasi Anak Menyebabkan Autisme

Benarkah Pemberian Imunisasi Anak Menyebabkan Autisme,- Banyak beredar informasi bahwa memberi imunisasi anak, entah itu imunisasi difteri, meningitis, polio, tetanus, campak, ataupun pertusis dapat menyebabkan autisme pada anak. Benarkah informasi tersebut?

banyak pendapat yang mengatakan ahwa imunitas alami itu lebih baik dan lebih kuat daripada imunitas yang dikuatkan dengan vaksin. Pendapat ini adalah pendapat yang benar Bunda, tapi harus ada konsekuensi yang harus Bunda dan anak Bunda terima apabila anak Bunda memilih untuk menggunakan imunitas alami.

Contohnya begini bunda, infeksi alami cacar air komplikasinya adalah pneumonia (radang paru-paru). Infeksi polio alami dapat menyebabkan kelumpuhan permanen.

Infeksi penyakit gondok alami dapat menyebabkan ketulian. Infeksi penyakit Hib (salah satu jenis influenza) dapat menyebabkan kerusakan permanen pada otak.

Apabila anak bunda menggunakan imunisasi menggunakan vaksin, anak Bunda akan terhindar dari berbagai penyakit tersebut beserta komplikasi-komplikasi yang mungkin terjadi.

Vaksin yang di gunakan untuk imunisasi anak tidak terbukti menyebabkan autisme. Meskipun banyak sekali perdebatan mengenai hal ini, berbagai hasil penelitian tidak dapat membuktikan keterkaitan antara autisme dengan vaksin yang diberikan kepada anak-anak.

Bahkan, penelitian asli yang menyebabkan perdebatan tersebut sudah ditarik. Meskipun tanda-tanda autisme muncul pada anak setelah anak diberi imunisasi, misalnya setelah diberi vaksin gondok, campak, atau rubella, hal tersebut terjadi hanya karena kebetulan. Dengan kata lain, ada faktor non-imunisasi yang bertindak sebagai pemicu, atau trigger, autisme.